Kamis, 17 September 2015

Mengenal Apa Itu EPC ?

EPC adalah singkatan dari Engineering, Procurement, and Construction. Apa yang membedakan EPC dengan proyek lain? siapa saja pemain-pemain EPC?


EPC Project adalah sebuah proyek yang terdiri rangkaian aktivitas Engineering (Perencanaan), Procurement (Pengadaan), dan Construction (Konstruksi) biasanya dilanjutkan dengan aktivitas Commissioning (Pengujian). Keempat aktivitas tersebut saling terkait dan dikerjakan oleh satu Contractor yang sama. Di proyek biasa (Regular Project) Engineering biasanya dikerjakan oleh konsultan perencana, dan aktivitas procurement dan construction biasanya melebur menjadi satu aktivitas. Lain halnya dengan proyek EPC dimana procurement memiliki peranan yang sangat vital dalam ketepatan waktu pelaksanaan proyek. Untuk lebih detailnya akan saya jabarkan masing-masing aktivitas Proyek EPC.

A. Engineering
Pada tahap Engineering Contractor dituntut untuk mengumpulkan data sendiri, untuk keperluan perhitungan dan desain. Tentunya semua proses pengumpulan data mulai dari soil investigasi, soil resistivity, lab test, material test harus mengikutsertakan Owner dan Konsultan. Semua report hasil pengujian harus disubmit dan disetujui(approved) oleh Owner baru kemudian kontraktor bisa melanjutkan ke tahap desain. Semua desain harus mengacu pada kontrak/spec/RKS dan Standard Internasional/Nasional yang berlaku. Biasanya di proyek-proyek EPC milik PLN dan PGN sebelum menyusun dokumen perencanaan Kontraktor diharuskan menyusun dokumen Design Basis atau Specification. Tujuannya semua desain yang dibuat oleh kontraktor harus mengacu pada dokumen design basis dan specification tersebut, tidak boleh menyimpang sedikitpun. Di dokumen tersebut ada syarat-syarat yang harus dipenuhi misalkan tekanan pompa harus berapa bar, mutu beton harus berapa MPa, kapasitas tanki harus berapa Liter, dll.


Optimasi desain menjadi kunci utama dalam aktivitas Engineering, bagaimana membuat desain yang effisien dan mudah dikerjakan di lapangan. Namun pada kenyataannya seringkali terjadi keterlambatan di Engineering akibat kurang baiknya komunikasi antara kontraktor, vendor (untuk beberapa perhitungan yang spesifik biasanya menggunakan jasa vendor), dan reviewer. Akibatnya aktivitas procurement dan construction ikut terlambat karena Engineering terlambat. Selain itu adanya keteledoran perhitungan yang mengakibatkan adanya perbedaan volume yang signifikan dapat menimbulkan implikasi biaya yang besar, oleh karena itu pada tahap ini kita haruslah sangat hati-hati.
 Beberapa kata kunci dalam Engineering sebagai berikut:


1. Contract Deviation, sekecil apapun deviasi yang terjadi dari perencanaan terhadap kontrak dapat berakibat fatal, beberapa pemilik pekerjaan tidak akan menerima hasil pekerjaan kita karena ketidaksesuaian tersebut. Makanya pada saat Engineering perhatikan betul seluruh spec dalam kontrak. Ga mau kan sudah kerja capek-capek tapi gabisa nagih?

2. Over/Underestimate the Volume
Melakukan Estimasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang masih berupa asumsi yang harus di-adjust sehingga mendekati volume aktual yang terjadi. Dampak dari ketidak akuratan estimasi adalah munculnya additional cost.

3. Unawareness of Situation
Dalam proyek EPC apalagi di lokasi yang sangat remote, situasi bisa menjadi sangat unexpected & uncertainty. Pendalaman kondisi medan lapangan harus sedetail mungkin untuk meminimalisasi ketidakpastian tersebut.

4. Technical Administration
Di beberapa kejadian persetujuan owner, partner, ataupun asuransi menjadi holdpoint mengakibatkan delaynya suatu pekerjaan. Tim Engineering harus mampu memangkas delay tersebut menjadi seminimal mungkin.





B. Procurement
Output Engineering adalah prosedur, gambar, dimensi, spesifikasi, quanity dan data sheet yang diperlukan oleh Tim Procurement untuk memulai proses pengadaan. Tentunya Tim Procurement harus menyaring semua penawaran dari vendor/supplier apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh Engineering dan disetujui oleh Owner. Ketepatan schedule pengadaan menjadi kunci dari ketepatan schedule proyek EPC keseluruhan sebab proses pengadaan material atau equipment EPC biasanya memakan waktu 3-5 bulan belum termasuk proses deliverynya (bisa 2 bulan jika dari Eropa/Amerika)

1. Administration & Procedure
Seringkali kendala administrasi menjadi faktor kendala utama proses procurement. Apalagi di proyek dengan administrasi dan prosedur yang sangat ribet seperti Proyek Migas. Sering terjadi keterlambatan yang siginifikan karena barang yang harusnya sudah di PO namun belum mendapat persetujuan dari Owner atau karena ada dokumen yang tidak lengkap barang yang sudah jauh-jauh didatangkan dari Luar Negeri tidak dapat ditagihkan sebagai progress. Jangan heran kalau dibutuhkan waktu yang lama untuk menyiapkan dokumen dan memproses custom clearance. Lagi-lagi kelemahan kita ataupun vendor adalah kelengkapan dokumen.

2. Cost Controlling
Untuk melakukan kontrol biaya harus ada database data administrasi yang akurat. Kemampuan IT sangat dibutuhkan terutama keahlian menggunakan software perhitungan (misalnya Ms.Excel). Budgeting dalam proyek EPC tidaklah mudah, harus didukung oleh pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Semakin kita banyak mengenal vendor semakin mudah pula kita melakukan control. Buta terhadap harga suatu barang impor dengan spesifikasi tertentu tentu saja dapat berakibat fatal. Anda akan kecolongan, bisa saja barang yang harganya X anda beli dengan harga 10 kali lipat.

3. Treat an Unique Project as a Normal Project
Tidak semua proyek berada di kondisi ideal. Tidak semua proyek terlaksana di musim kering. Mungkin tidak ada sinyal komunikasi di sana, ataupun struktur tanah yang sangat gembur, atau jalan akses yang sangat sulit dilalui. Pertimbangkan semua resiko terburuk disetiap pengambilan keputusan. Vendor/supplier dengan penawaran terendah seringkali menjebak. Hasil yang kita peroleh tidak seperti yang kita harapkan, akhirnya justru banyak biaya tambahan yang kita keluarkan untuk menutupi kekurangan dari vendor. Lebih baik tunjuk vendor yang memiliki basic pondasi bisnis yang kuat.

C. Construction
Tahap Construction Proyek EPC tidak berbeda jauh dari proyek konstruksi pada umumnya, akan ada pekerjaan clearing, earthwork, civilwork & structure work, mechanical work,  electrical work. Hanya saja tiap-tiap jenis proyek EPC memiliki keunikan dan ketentuannya masing-masing, terutama masalah Safety. Di proyek-proyek Migas standar Safety yang diterapkan sangat tinggi, hampir tidak ada celah bagi kontraktor untuk lengah terhadap safety. 

1. Inneffective Method

Optimasi metode kerja di lapangan sangatlah penting untuk menghindari dua kali atau bahkan tiga kali kerja. Hal ini dikarenakan tidak terbentuknya siklus pekerjaan yang baik, sehingga untuk mengerjakan pekerjaan selanjutnya harus mengulang beberapa bagian pekerjaan yang telah dilakukan. Contoh yang paling sering terjadi adalah tidak sinkronnya sequence pekerjaan pondasi dan pekerjaan underground pipe, sehingga setelah pekerjaan pondasi selesai dan tanah telah ditimbun kembali, tanah terpaksa di gali lagi untuk bisa menginstall underground pipe yang seharusnya dapat ditanam bersamaan pada saat galian pondasi.

 2. Inefficiency Resources
Terlalu sedikit resources itu berbahaya namun bukan berarti terlalu banyak itu juga baik. Seringkali terjadi ketidakseimbangan antara alat, material, dan manpower. Sehingga ada salah satu yang akan idle. Dampaknya inevitable cost.








3. Quality is Commitment!

Kualitas haruslah menjadi komitmen utama dalam sebuah proyek apalagi proyek EPC. Seringkali permasalahan terkait kualitas muncul terakhir kali (saat commissioning) di saat itu banyak sekali re-work yang harus dikerjakan. Akibatnya potensi cost overrun.









D. Commissioning
Banyak proyek EPC yang secara konstruksi sukses namun setelah dilakukan Performance Test ternyata output yang dihasilkan tidak sesuai yang diharapkan. Akibatnya banyak perubahan dan penambahan yang harus dilakukan kontraktor. Karena bagaimanapun Proyek EPC adalah Turnkey, Owner tidak akan mau menerima hasil pekerjaan kontraktor jika spesifikasi tidak sesuai dengan yang disayaratkan di kontrak. Oleh karena itu, berhati-hatilah! Ingat! Quality!

Masih banyak yang dapat diceritakan mengenai Proyek EPC, mungkin lain waktu Penulis akan membahas lebih detail lagi mengenai pengalaman di Proyek EPC.

.....To Be Continued 

Perencanaan Dimensi Pondasi Dangkal ( Shallow Foundation ) Sederhana Metode Meyerhof

Menentukan dimensi pondasi dangkal itu sederhana, biasanya ketika kita menggunakan jasa vendor soil investigasi akan muncul hasil berupa daya dukung ijin pondasi menggunakan pondasi setempat dengan dimensi X. Namun banyak orang yang kurang memahami darimana asal perhitungan tersebut. Data apa saja yang harus kita kumpulkan supaya kita bisa tahu berapa daya dukung tanah di lokasi tersebut. Awalnya saya juga sempat salah persepsi, saya kira untuk menentukan daya dukung tanah cukup menggunakan CPT (Sondir) atau SPT Test saja, ternyata saya salah. Untuk mengetahui dukungan tanah ternyata diperlukan uji laboratorium. Data yang diperlukan disini antara lain :

- Data Berat jenis Tanah ( gamma, kg/m3 )
- Data nilai kohesi ( c, kg/cm2 )
- Data nilai sudut geser internal

Dari data-data tersebut kita bisa hitung daya dukung tanah berdasarkan persamaan Meyerhof, Langkahnya sebagai berikut:

- Hitung Overburden Pressure ( q ) , asumsikan/tentukan terlebih dahulu letak kedalaman pondasi, Rumus Overburden Pressure adalah : Depth (m) x gamma (kg/m3) 
- Masukan ketiga parameter yaitu , kohesi ( c ) , Overburden Pressure ( q ), dan gamma ke persamaan berikut: 

 

B adalah lebar bidang pondasi yang ditinjau yaa, biasanya diambil per 1 meter ( masukin angka 1 )

Untuk faktor bentuk, kedalaman, dan inklinasi bisa dilihat dibawah yaa:
Seringkali semua faktor tsb kita isi saja dengan 1, kecuali kalau dia ada inklinasi (beban miring). Kalau tidak ada kita input saja dengan nilai 1 supaya lebih konservatif/aman.

Untuk faktor daya dukung Tanah menurut Meyerhof sebagai berikut:
 
Biasanya sih Nilai Sudut Geset Internal dianggap 0 supaya perhitungan lebih konservatif/ lebih amann.

- qu adalah daya dukung ultimate untuk mendapatkan qa (daya dukung izin) harus dibagi dengan Safety Factor (biasanya untuk pondasi SF diambil sama dengan 3)

- Persyaratan keamanan dukungan pondasi adalah :

  qa > P / A  
  
  P adalah gaya vertikal yang harus ditahan oleh pondasi, 
  A adalah luasan tampang pondasi

Ada beberapa hal yang musti diperhatikan dalam perancangan pondasi:
1. Cek Requirement yang ada di Kontrak / RKS / Bestek / Specs
2. Cek data tanah yang dipakai apakah betul titik yang kita maksud, biasanya kalau untuk gedung dipakai data tanah yang paling jelek dari beberapa titik pengambilan sampel, tapi kalau desain beberapa utility seperti box, tower listrik, yang sifatnya spot-spot harus disesuaikan dengan data tanah di setiap lokasi.
3. Cek konversi satuan!!! Ini nih yang biasanya membuat kita teledor, seringkali kita mendapatkan data tidak crosscheck satuannya hanya waton input saja, ini kesalahan fatal bos! coba crosscheck kembali satuannya, apakah itu kPa, kg/m2, kg/cm2,Ton/m2, ataukah kN/m2. 
4. Jangan bingung! intinya hanya ketelitian saja, selalu gunakan literatur (sumber) contoh pekerjaan orang lain/referensi proyek sebelumnya/buku kuliah, dimana disitu ada angka-angka yang sudah teruji kebenarannya. Jadi pada saat anda mendesain dan anda menemukan kejanggalan pada hasil perhitungan anda, anda langsung bisa membandingkan dengan literatur yang anda miliki, itu bisa membantu menemukan bagian mana dari perhitungan anda yang salah. Salah satu situs yang saya rekomendasikan untuk membantu anda mengcrosscheck/membandingkan hasil hitungan anda:
5. Teliti dalam membuat sebuah template perhitungan di Excel, seringkali anda tidak menyadari ada bagian-bagian ketika anda menekan link yang salah, sering-seringlah anda mengecek hasil pekerjaan anda sendiri. Lebih baik kita perbaiki sebelum terlambat, daripada kita mengerjakan sesuatu yang salah.

Memang pengalaman itu penting, bahkan beberapa orang-orang yang memiliki pengalaman puluhan tahun bisa memprediksi dengan akurat suatu hasil perhitungan hanya menggunakan intuisi saja (tidak berdasarkan data). Tapi bukan itu yang dimaksud dengan proses Engineering. Tanggung jawab seorang Engineer adalah memastikan semua perencanaan sudah sesuai dengan standar keamanan, keselamatan, dan kenyamanan dibuktikan dengan hitungan. Jadi semakin anda berpengalaman, seharusnya kualitas dan kuantitas hitungan yang anda produksi harusnya semakin meningkat, tingkat kepercayaan diri anda dalam membuat desain semakin tinggi. Tapi bukan berarti anda yang belum pernah sama sekali membuat desain tidak bisa, Anda bisa!! asalkan diri anda yakin dan anda menemukan arahan yang tepat.